Ini Dia Sejarah Intelijen Teddy Rusdy Di Timor Timur
![]() |
| Sumber : Google.com |
Saat Teddy
Rusdy ditugaskan sebagai “Sekretaris Pribadi” AS INTEL KOPKAMTIB, di dalam
menghadapi masalah di Timor Timur Pemerintah Indonesia harus bersikap dan
bertindak ekstra hati-hati, terutama dalam menghadapi opini dunia internasional
khususnya Negara-negara di ASEAN yang telah sepakat untuk menciptakan kawasan Asia
Tenggara yang lebih stabil dan damai. Pengalaman perang atau perebutan /
pembebasan Irian Barat dalam Operasi TRIKORA, dan konfrontasi militer ganyang
Malaysia dalam Operasi DWIKORA masih lekat dalam perhatian negara-negara ASEAN.
Untuk “menentramkan”
dunia internasional khususnya ASEAN, pada banyak kesempatan, Pemerintah
Indonessia secara resmi mengatakan tidak mempunyai ambisi territorial. Menghormati
hak rakyat Timor Timur ingin bergabung dengan Indonesia, maka tidak mungkin
bergabung sebagai Negara, melainkan akan menjadi bagian dari wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Namun dari
semua alasan dan pertimbangan keterlibatan ABRI dalam perang Timor Timur,
adalah didasarkan kepada suatu analisa dan perkiraan Intelijen Strategis
tentang masa depan Timor Timur sebagai Negara Merdeka.
Pertama,
memasuki awal 1970-an masih dalam suasana Perang Dingin dan bersamaan dengan
keluarnya Armada Uni Soviet dari Vietnam Utara, maka Uni Soviet terpaksa
mencari temoat oengganti bagi pangkalan logistic dalam memelihara kehadirannya
di Samudera Pasifik Timur dan Samudera Hindia. Dalam usaha Uni Soviet mencari “pelabuhan
air panas” dengan melakukan berbagai “Port
calls”, mereka mengirimkan Armada lautnya yang disamarkan dalam bentuk
kapal-kapal penangkap ikan dan kapal-kapal Survey Hydrography untuk mendukung
kegiatan operasional kapal-kapal selammya. Gerakan ini mencari “pelabuhan air
panas” sungguh mengkhawatirkan Pemerintah Amerika Serikat beserta sekutu NATO. Kekhawatiran
tersebut bertambah ketika pada 1973 pemerintah VANUATU di Pasifik Barat Daya
memberikan ijin “Port Calls” untuk
kapal-kapal Armada Uni Soviet.
Kedua, Komunitas Intelijen ABRI berkeyakinan bahwa Negara Timor Timur
yang merdeka akan sulit mempertahankan eksistensinya karena sangat terbatasnya
sumber daya manusia dan sumber daya
alam. Hal mana akan “memaksa” Pemerintah Timor Timur mencari bantuan dan
keterikatannya dengan Negara besar yang mampu membantu. Negara dan Pemerintahan
Timor Timur yang beraliran komunis pasti akan sulit mencari bantuan dari
Amerika Serikat maupun sekutunya Australia. Di lain pihak, Pemerintah Uni
Soviet yang sedang gigih mencari “Port
Calls” dan “pelabuhan air panas” guna memelihara dan mendukung kekuatan
Armadanya di Samudera Pasifik juga Samudera Hindia tentu akan senang hati
memberikan bantuan dengan imbalan “Port
Calls”. Tak bisa dibayangkan apabila kemudian Timor Timur menjadi pendukung
kekuatan militer Uni Soviet di laut maupun di udara dengan tersedianya lapangan
udara yang panjang dan bisa didarati pesawat sejenis Boeing 707 di BAUCAU. Tidak
bisa dibayangkan bagi pemerintah dan Bangsa Indonesia jika Negara Timor Timur
yang komunis dan menjadi pangkalan militer Uni Soviet itu berada di
tengah-tengah wilayah nusantara.

Comments
Post a Comment