Ini Dia Dua Peristiwa Nasional Penting Yang Terjadi Saat Teddy Bertugas Sebagai Komandan Lanud Rembiga
![]() |
| Sumber : Google.com |
Saat Teddy
sedang bertugas sebagai Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Rembiga sejak 1969,
ada dua peristiwa nasional yang cukup penting terjadi . Pertama, proses awal periode Orde Baru yang secara konseptual
mencanangkan suatu sistem politik nasional berdasarkan dengan Demokrasi
Pancasila. Orde Baru yang berpegang teguh dengan pelaksanaan nilai-nilai
Pancasila dan UUD 1945 “secara murni dan konsekuen”.
Partai
politik dan peserta pemilu diwadahi dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI),
Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Sekretariat Bersama Golkar (Sekber
Golkar) yang kemudian berubah menjadi Golongan Karya. Sementara itu, untuk
mencegah terjadinya perpecahan di kalangan “rakyat yang dipersenjatai” maka
jajaran ABRI yang tidak ikut serta dalam Pemilihan Umum ini mendapat “jatah”
untuk duduk di dalam DPR dan MPR sebagai Fraksi ABRI. Fraksi ABRI dan Utusan
Golongan adalah keluarga Besar Golkar. Namun, ABRI adalah kekuatan utama Golkar
dan pendukung loyal pemerintahan Presiden Soeharto.
Kedua, jajaran ABRI diorganisasikan dalam
Kompartemen Wilayah Strategi yang disebut Komando Wilayah Pertahanan
(Kowilhan). Kowihan tersebut dibagi menjadi lima bagian yaitu, Kowilhan I wilayah
Pulau Sumatera, markas Komando bertempat di Medan. Kowilhan II Pulau Jawa, dan
Madura, markas Komando bertempat di Yogyakarta. Kowilhan III Pulau Kalimantan
dengan markas Komando di Banjarmasin. Korwilhan IV Pulau Sulawesi dengan markas
Komando di Makassar, Ujung Pandang. Korwilhan VI di Kepulauan Maluku dan Irian
Jaya dengan markas Komando di Biak, dan Korwilhan VI Kepulauan Bali dan Nusa
Tenggara dengan markas Komando di Singaraja.
Pembentukan
Korwilhan ini merupakan salah satu sarana integrasi Komando dan pengendalian
jajaran ABRI pasca peristiwa G30S pada tahun 1965. Hal ini sangat efektif dalam
sistem pembinaan territorial sebagai modal memperluas dukungan rakyat kepada
Golkar.

Comments
Post a Comment