Ciri dan Sifat Orang Munafik dalam Al-Quran
![]() |
| Sumber: google.com |
Nabi Muhammad SAW. Telah menghimbau agar umatnya berhati-hati terhadap sifat kemunafikan. Ketika zaman Nabi Muhammad SAW, kaum munafik itu bagaikan 'duri didalam daging' yang menyulitkan syair islam, tetapi enggan bermusuhan secara langsung dengan kaum muslimin.
Disebutkan dalam ayat Al-quran ada dua tipe orang munafik yang Allah SWT singgung dalam firmannya sebagai berikut.
Menurut Ahmad Fuad Effendy dalam Sudahkah Kita Mengenal Alquran?, tipe yang pertama disinggung dalam surah al-Baqarah ayat 17-18. Terjemahan kedua ayat itu, "Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali."
Dalam firman-Nya, kaum munafik digambarkan pada mulanya bersedia merespons seruan Islam. Karena itu, mereka disebut "seperti orang-orang yang menyalakan api." Namun, respons itu demikian lemahnya, lalu diikuti keraguan. Sikap ragu-ragu itu berlanjut pada keengganan, dan akhirnya penolakan.
"Ketika banyak orang mengambil petunjuk dari cahaya Islam, mereka justru meninggalkannya. Maka Allah pun segera mencabut cahaya-Nya dari diri mereka, dan mereka kembali ke dalam kekufuran. Allah membuat mereka 'tuli, bisu dan buta' sehingga tak akan tahu jalan kebenaran," tutur Effendy.
Adapun tipe keuda digambarkan dalam Alquran surah al-Haj ayat ke-11. Artinya: "Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi; maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata."
Tipe kedua ini adalah orang-orang yang memeluk Islam, tetapi selalu berada dalam keraguan. Sebab, yang mereka cari bukanlah ridha Allah, melainkan kepentingan diri sendiri.
"Ketika umat Islam sedang menghadapi kesulitan dan tantangan, mereka menarik diri dan berada di luar barisan. Tapi ketika kemenangan datang, mereka merapat kembali, seolah-olah ikut berjasa dalam meraih kemenangan," ujar penulis yang juga anggota Dewan Pembina King Abdullah bin Abdul Aziz International Center Saudi Arabia.
"Mereka adalah kaum oportunis yang mengikuti ke mana arah angin, tidak punya pendirian," sambung dia.
Sumber: Ayobandung.com

Comments
Post a Comment