Meneruskan Jejak Sang Kakek, Teddy Rusdy Mendapatkan Penghargaan Bintang Shakti
| Sumber : Wikipedia |
Sepuluh tahun
Yai Zis pulang dari Boven Digoel tepatnya pada tahun 1959, Teddy pun lulus dari
SMA I Budi Utomo, Jakarta. Saat itu Presiden Soekarno yang selama masa
Demokrasi Liberal hanya menjadi symbol mengambil kendali kembali melalui Dekrit
Presiden, 5 Juli 1959. Yang kemudian dalam sistem politik dikenal dengan era
Demokrasi Terpimpin, Presiden Soekarno, Pemimpin Besar Revolusi, Panglima
Tertinggi, mencanangkan Tri Komando Rakyat atau Trikora, seruan dan perintah
untuk membebaskan Irian Barat.
Sebagai anak
muda yang gelora darah dalam tubuhnya tengah membara, Teddy pun terdorong untuk
ikut memasuki pendidikan militer. Dirinya mendaftarkan diri untuk masuk ke TNI
Angkatan Udara pada tahun 1960 dan dua tahun setelahnya dirinya pun langsung
dilantik menjadi letnan tepatnya pada tahun 1962. Pada saat itu TNI Angkatan
Udara bersama dengan Angkatan Laut dan Angkatan Darat sedang membangun kekuatan
untuk mempersenjatai diri dengan peralatan-peralatan utama sistem senjata yang
modern.
Salah satu
persiapannya adalah dengan menyiapkan para penerbang utama. India yang mewarisi
sistem senjata dan sistem pendidikan inggris, membuka pintu untuk melatih para
taruna navigator di Indian Air Force Flying College, di Jodhpur, Rajasthan. Untuk
itu, dipilih empat calon perwira yang akan dilatih di India dan Teddy masuk
kedalam salah satunya.
Sepulangnya
dari India pada tahun 1963, Teddy sudah menjadi bagian dari operasi Trikora
untuk membebaskan Irian Barat di daerah operasi Morotai. Teddy menerbangkan
pesawat Albatros (PB) dan Catalina (PBY) yang mampu terbang selama delapan jam.
Pesawat ini sangat ideal untuk tugas-tugas infiltrasi menerobos pertahanan
Belanda menurunkan pasukan intel dan membawa logistik.
Saat Teddy
terbang diatas pulau Boven Digoel tempat dimana Yai Zis dibuang dan dianggap
sebagai pemberontak Belanda pada tahun 1929. Selang 34 tahun kemudian setelah
Yai Zis memberontak Belanda, kini Teddy yang melanjutkan jejak sang kakek. Sebagai
cucu seorang Digulis, Teddy ingin ikut membebaskan Irian Barat atau Papua
menjadi bagian Indonesia sebagaimana diamanahkan kemerdekaan.
Karena keberhasilannya
di tugas tersebut, Teddy pun mendapatkan penghargaan Bintang Shakti dari
Soekarno. Menurut Teddy berjuang di daerah tempat kakeknya yang dulu pernah
dibuang di tempat tersebut mengingatkan dirinya bahwa dia telah memenuhi arti
dari kata “santri” yang berasal dari bahasa Jawa, yakni cantrik yang bermakna “orang atau murid yang selalu mengikuti
gurunya”, yaitu Yai Zis.
Sumber : geotimes.co.id
Comments
Post a Comment